Assalamualaikum rekan rekanita.
Salam 3B nya yaa..Udah lama dong tak jumpa dengan konten ini gegara
PSBB. Wkwkwk
Udahan ya di zona nyaman psbb-nya:v
hari ini penulis akan melanjutkan perjuangan rekan-rekanita sebelumnya dengan
menulis artikel-artikel ke-NU an setelah sekian lama blog ini hiatus kurang
lebih seumurnya covid-19 lah. Nah..Dalam periode kali ini penulis akan
menyajikan artikel senada dengan periode sebelumnya serta kegiatan PKPT IPNU
IPPNU UNESA yang dilaksanakan secara daring. Ya bisa di bilang edisi kali ini
edisi Covid hehehe
Bismillahirrahmanirrahim......
KENAPA SIH
HARUS BER-NU?
Oleh:
Nike Nur
Fadilah
Indonesia
merupakan negara dengan mayoritas muslim terbanyak. Di Indonesia sendiri
memiliki organisasi islam terbesar yang telah diakui yaitu salah satunya
Nahdlatul Ulama’. Nahdlatul ulama’ atau lebih dikenal NU merupakan jam’iyyah
ahlussunnah wal jama’ah dan dijadikan cermin Islam di Indonesia. Namun,
sekarang banyak bermunculan paham dan ormas (organisasi kemasyarakatan) radikal
dengan ajaran yang menyimpang. Ormas yang intoleran dan radikal itu bertolak
belakang dengan ideologi negara kita Indonesia.
Di era modern
ini kita harus bijak dalam memilih paham yang baik karena Nabi sendiri sering
berpesan: “Fahirol muslimin waman syadza syadza finnar alaikum bil jama’ah
fainna yadghoyhi ma’al jama’ah, waman syadza syadza finnar”. Dan kuncinya
adalah dengan ber-NU.
Apa itu ber-NU?
Ber-NU itu
menyadari kedudukan pengikut Rasulullah pada ruang sosiologi antropologi
sebagai pengikutnya ulama’ atau juga bisa diartikan beragama sesuai dengan
tingkatan dan keadaan sekarang. Lantas hal apa yang bisa dijadikan kita untuk
ber-NU?
Banyak hal yang bisa dijadikan dasar
kita harus ber-NU diantaranya:
Latar Belakang NU
NU yang
merupakan singkatan dari Nahdlatul Ulama’ merupakan salah satu organisasi islam
terbesar di Indonesia. Lahirnya NU diprakarsai oleh Syaikhuna KH. Hasyim
Asy’ari dan KH. Ahmad Wahab Chasbullah serta ulama’ lainnya tepat pada tanggal
31 Januari 1926.
Pada tahun
1920-an sebelum NU berdiri, terjadi perdebatan antara Islam Tradisionalis dan
Modernis mengenai penghapusan faham-faham yang telah kuno. Islam Modernis
bersikeras untuk menghapus faham yang kolot dan praktek ibadah yang dianggap
mendekati kekufuran sepertihalnya ziarah kubur dan tahlilan. Namun, Islam
Tradisionalis menolak keinginan dari Islam Modernis dan tetap akan
mempertahakan ajaran tersebut. Hal ini dikarenakan, ajaran dan praktek ibadah
dari Wali Sanga merupakan ajaran yang mudah diterima di masyarakat dan bersifat
lentur dalam artian dapat menyesuaikan dengan kondisi muslim di Indonesia. Hal
ini sesuai dengan penetapan qoidah dalam kitab Qowaidul Fiqhiyyah yang
berbunyi “Al-muhafadzatu alal qodimus shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah”
Akibat
terjadinya perdebatan itu Islam Modernis keluar dari taswirul afkar yang
merupakan lembaga sarana yang disediakan untuk belajar dan mengaji dan
menyebabkan menurunnya lembaga tersebut. Namun, para ulama dari Islam
Tradisionalis tidak pantang menyerah, mereka kemudian mendirikan lembaga
madrasah baru dengan nama Nahdlatul Wathan. Kala itu Nahdlatul Wathan sangat
berkembang dan menciptakan generasi muda dengan keilmuan yang tinggi.
Keterlibatan NU dalam perkembangan memajukan negara Indonesia juga
terlihat dari Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 10 November 1945
oleh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari. Selain itu, dalam praktek berbangsa dan
bernegara NU menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat dengan
berpolitik kebangsaan yang menjunjung kedaulatan negara
NU memiliki ajaran yang mencerminkan
nilai-nilai dalam rahmatan lil alamin. Hal ini dikarenakan dalam penentuan
hukum, para ulama’ NU berpegang teguh pada empat pilar yaitu Al-Qur’an, Hadits,
Ijma’ dan Qiyas dengan dibarengi pada penerapan empat prinsip dalam aswaja
yaitu:
1.
Tawassuth
2.
Tawazun
3.
Tasamuh
4.
I’tidal
Rasulullah
menganjurkan kita bersama jama’ah, dalam NU sendiri kita bisa menemukan jalan
untuk berjama’ah dalam harakah, amaliyah, fikrah dan ukhuwah. Dalam harakah
bisa dalam bentuk gerakan syiar. Sedangkan dalam amaliyah, condong pada amal
keaswajaan seperti halnya tahlilan, istighosah, ziarah kubur dan lain
sebagainya. Dalam fikrah dapat terealisasi dalam bentuk peningkatan wawasan
keilmuan seperti mendirikan pondok pesantren, mengadakan kajian ilmiyah,
bahtsul masail, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam ukhuwah yang artinya
persaudaraan meliputi ukhuwah insaniyah, wathaniyah, basyariyah dan islamiyah.
NU mengurusi perdamaian dalam skala global dan tidak memandang bulu. Dari sini
kita dapat paket komplit 100% dari NU melalui harakah, amaliyah, fikrah dan
ukhuwah yang tidak bisa didapat di ormas lainnya yang dominan hanya
mengandalkan harakah saja.
Jika suatu
ormas diumpamakan dengan kendaraan, NU merupakan kendaraan yang sudah memiliki
hak kepemilikan jelas, dengan supir yang memiliki surat izin mengemudi dan
kecakapan mengendarai dengan baiki tidak ugal dan ramah sehingga pasti orang
yang menaiki kendaraan tersebut akan nyaman dan tenang dan bisa percaya kalau
akan sampai dengan selamat.
Jadi apa masih ragu ber-NU
sekarang????
6 Komentar
Mantabs 😍
BalasHapusKeren jan
BalasHapusCocok
BalasHapusMantapp punn ����
BalasHapusBermanfaat sekali uwuwww
BalasHapusTerimakasih ilmunya
BalasHapus