Di tengah
derasnya arus digitalisasi, sering muncul anggapan bahwa semakin
maju teknologi, semakin jauh pula generasi muda dari nilai dan tradisi.
Rasionalitas dianggap mengikis spiritualitas, sementara modernitas seolah
menyingkirkan akar budaya. Namun, benarkah keduanya harus selalu berlawanan?
Pimpinan
Komisariat IPNU-IPPNU Universitas Negeri Surabaya justru menawarkan jawaban
yang berbeda melalui kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA). Di ruang
inilah, yang modern dan yang tradisional tidak dipertentangkan, melainkan
dipertemukan.
MAKESTA tidak
sekadar menjadi agenda pengenalan organisasi sebagaimana yang kerap dibayangkan. Ia hadir sebagai proses
kaderisasi yang berusaha membentuk manusia secara utuh, bukan hanya cerdas
secara intelektual, tetapi juga kuat secara ideologis
dan matang secara
spiritual. Di satu sisi, peserta
diajak berpikir kritis dan rasional; di sisi lain, mereka juga diajak menyelami nilai-nilai Ahlussunnah
wal Jama’ah (Aswaja) yang menjadi fondasi gerakan Nahdlatul Ulama.
Di
sinilah letak keunikan MAKESTA yang tidak memaksa peserta memilih antara
menjadi modern atau tetap berakar, melainkan mengajarkan bagaimana keduanya
dapat berjalan beriringan.
Tema
yang diusung, “PILAR 5.0 (Pelajar Intelektual, Loyal, Adaptif, dan Rasional):
Merawat Nalar, Meneguhkan Akar,” semakin menegaskan arah tersebut. Di era Society 5.0 yang serba cepat dan
berbasis teknologi, pelajar NU tidak cukup hanya menjadi pengguna. Mereka
dituntut menjadi subjek yang mampu mengendalikan arah perubahan. Mereka
harus rasional, tetapi
tidak kehilangan nilai; adaptif, tetapi tidak tercerabut
dari identitas.
Paradoks
inilah yang justru ingin dirawat: bagaimana menjadi intelektual tanpa menjadi
kering, menjadi loyal tanpa kehilangan daya kritis, serta menjadi adaptif tanpa
kehilangan jati diri.
Proses
menuju ke sana tentu tidak dibangun secara instan. MAKESTA dirancang melalui
rangkaian materi yang tidak hanya berbicara tentang
ke-Aswajaan dan ke-NU-an, tetapi juga menyentuh keindonesiaan, dinamika
kampus, kepemimpinan, hingga media dan jurnalistik. Menariknya, materi-materi
ini tidak berhenti pada tataran teori. Diskusi kelompok, pre-test, post-test,
hingga refleksi diri menjadi ruang bagi peserta untuk menguji, meragukan,
sekaligus menemukan pemahamannya sendiri.
Namun,
pembentukan kader tidak hanya terjadi di ruang kelas. Justru di luar forum formal,
proses itu menemukan bentuknya yang lebih dalam. Di tengah malam yang hening, melalui tadabbur, istighosah, dan tahlil,
peserta diajak berdialog dengan dirinya sendiri. Sebaliknya, dalam kegiatan outbound dan
dinamika kelompok yang penuh energi, mereka belajar tentang kebersamaan,
kepercayaan, dan solidaritas.
Di satu sisi ada kontemplasi yang sunyi, di sisi lain ada dinamika yang
riuh. Keduanya tampak bertolak belakang, tetapi justru saling melengkapi. Dari
sinilah lahir keseimbangan antara kedalaman spiritual dan kekuatan sosial.
Menariknya,
kegiatan ini diikuti oleh 132 peserta. Jumlah yang besar ini bisa saja menjadi
tantangan, bahkan berpotensi membuat proses belajar menjadi tidak efektif.
Namun, melalui pengelolaan yang terstruktur, mulai dari pembagian kelompok
hingga sistem evaluasi, MAKESTA justru mampu mengubah potensi kerumitan menjadi
kekayaan. Banyaknya peserta menghadirkan beragam sudut pandang, memperluas
diskusi, dan memperdalam proses pembelajaran.
Alih-alih
menjadi sekadar angka, 132 peserta tersebut menjadi representasi bahwa
kesadaran akan pentingnya kaderisasi berbasis nilai masih hidup di tengah
generasi muda.
Pada akhirnya, MAKESTA tidak berhenti
pada kegiatan seremonial. Ia adalah investasi jangka
panjang. Dari proses
inilah diharapkan lahir kader-kader yang tidak
hanya memahami nilai
Aswaja An-Nahdliyah, tetapi
juga mampu menghidupkannya dalam konteks zaman.
Kader yang nasionalis tanpa kehilangan identitas keislamannya, loyal tanpa
kehilangan rasionalitasnya, serta aktif di ruang digital tanpa kehilangan arah
perjuangannya.
Di tengah dunia
yang sering memaksa kita memilih antara tradisi atau kemajuan, MAKESTA justru
menunjukkan bahwa keduanya tidak harus dipertentangkan. Sebab masa depan tidak hanya dibentuk oleh mereka yang mampu
mengikuti perubahan, tetapi juga oleh mereka yang tahu nilai apa yang harus
tetap dipertahankan.

0 Komentar