Oleh:
INAYAH WULANDARI
Bangsa
Indonesia merupakan bangsa yang hidup dalam lingkup global, dan dalam
perkembangannya tidak akan bisa dilepaskan dari teknologi. Sebagai negara
berkembang, Indonesia dianggap masih kurang mampu dalam penguasaan teknologi
dan ilmu pengetahuan. Menurut mantan
Menteri dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida Alisjahbana,
kemajuan teknologi di Indonesia masih rendah. Ada beberapa indikator yang
membuktikan rendahnya tingkat teknologi di Indonesia, seperti kurangnya
kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Melihat kemajuan teknologi yang begitu pesat dan
menyeluruh seperti sekarang ini, dibutuhkan kemapanan dan inovasi yang kongkrit
untuk siap dalam menghadapi setiap perubahan yang akan terjadi. Salah satu
bidang yang paling merasakan dan terdampak oleh globalisasi adalah bidang
perindustrian. Di sektor industri, sinergi kebijakannya masih lemah, dan
sedikitnya jumlah ilmuwan di Indonesia. Berdasarkan data United Nation for
Development Program (UNDP) pada tahun 2013, indeks pencapaian teknologi
Indonesia berada pada urutan ke-60 dari 72 negara. Hal ini membuktikan masih
sangat rendahnya kesiapan bangsa Indonesia dalam menyongsong era industri
global.
Meski Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (IP-TIK) Indonesia pada tahun 2016 mengalami kenaikan menjadi 4,34
(skala 1-10) dari tahun sebelumnya di level 3,88, posisi Indonesia masih berada
jauh di negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, Filipina,
Thailand, dan Vietnam. Indeks itu menunjukan bahwa Indonesia masih berada pada
peringkat 100 besar, tepatnya 111 atau naik tiga peringkat dibanding periode
yang sama pada tahun sebelumnya.
Di era globalisasi ini, negara-negara didunia
sudah bersiap untuk menyongsong era industri 4.0. era industri 4.0 akan berbasis teknologi dan digital.
Perkembangan teknologi ini juga sudah mulai diadopsi oleh negara-negara
tetangga Indonesia. Seperti Singapura yang sudah memiliki robat pembersih
karpet, secara tidak disadari telah mengganikan keberadaan tukang sapu. Hal
serupa juga sudah dilakukan oleh pemerintah Dubai yang telah mengumumkan
niatnya untuk 25% dari semua bangunan baru di Dubai akan memakai teknologi 3D printing, untuk
mempercepat proses-proses konstruksi.
Era industri 4.0 bisa saja menjadi tantangan
atau peluang bagi setiap negara yang ada di dunia. Bergantung pada kesiapan
sumber daya manusia dan sejauh mana perkembangan teknologi yang mereka miliki.
Begitu halnya dengan bangsa Indonesia, apalagi saat ini Indonesia sudah masuk
dalam rana MEA (Masyarakat Ekonomi Asia). Dan dalam waktu dekat ini akan mulai
mempersiapkan diri untuk menyambut era Industri 4.0. Komponen penting yang
harus disiapkan oleh pemerintah disamping memperbaiki sistem perekonomian
adalah kesiapan sumber daya manusia dalam bidang teknologi dan ilmu
pengetahuan. Karena di era industri 4.0 semuanya akan berbasis teknologi,
sehingga akan banyak terjadi pengurangan tenaga kerja. Bagi mereka yang tidak
benar-benar berkompeten dibidangnya akan dengan mudah untuk di tinggalkan.
Dalam rentang waktu 2020-2035, Indonesia akan
mendapatkan anugerah bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada tahun
2030. Pada saat itu pertumbuhan kelompok usia produktif (umur 15-16) jauh
melebihi kelompok usia tidak produktif (anak-anak usia 14 tahun ke bawah dan
orang tua berusia 65 tahun keatas). Anak-anak yang saat ini berusia 15 tahun
atau belasan tahun, pada saat bonus demografi mereka akan mencapai usia sekitar
30 tahunan, pada usia inilah tingkat produktifitas seorang individu dalam
bekerja dan berkarya untuk bangsa. Sehinga kita perluh mempersiapkan mereka
dengan ;sebaik mungkin, agar saat waktunya tiba mereka mampu menjadi generasi
emas yang bisa membawa bangsa Indonesia kearah lebih baik.
Para generasi muda inilah yang kemudian akan
memikili peran yang besar dalam menjalankan roda perekonomian bangsa Indonesia
dimasa depan. Khususnya yang menjadi perhatian adalah era revolusi industri
4.0. Para pemuda ini harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin sehingga di masa
depan mereka akan bisa berkonstribusi dan dapat bersaing dengan sumber daya
manusia dari negara-negara lain di dunia. Untuk memanfaatkan peluang bonus
demografi generasi muda ini harus menempa diri untuk bisa menjadi sosok
generasi pencipta, yang akan menjadi penentu nasib bangsa dimasa depan.
Sejauh ini generasi muda kita sudah mulai
banyak berkonstribusi untuk mendobrak perekonomian bangsa. Banyaknya pemuda
yang kemudian membuat inovasi-inovasi baru diberbagai bidang. Jiwa-jiwa
kewirausahaan mereka pun sekarang semakin berkembang. Terbukti dengan banyaknya
online shoping yang dikelolah oleh anak-anak muda.
Salah satu kisah inspiratif yang dapat
dijadikan teladan untuk generasi muda adalah keberhasilan Iman Usman dan Adamas Belva Devera dalam
mendirikan RuangGuru.com yang telah berkonstribusi banyak untuk meningkatkan
pendidikan di Indonesia. Kisah lainnya adalah keberhasilan Achmad Zaky pendiri
Bukalapak.com. salah satu situs jual beli online terbesar di Indonesia.
Bukalapak.com memiliki visi untuk mengubah hidup banyak orang dengan memajukan
UMKM lewat internet, yang menjadi salah satu bentuk dari kemajuan teknologi.
Fase dari pengembangan Bukalapak.com
diselesaikan oleh Achmad Zaky dalam waktu dua bulan. Setelah selesai tahap
pengembangan, Achmad Zaky kemudian mengajak para pedang di mall untuk bergabung
dengan Bukalapak.com namun respon yang diberikan sangat rendah, respon positif
justru didapat dari para pedagang kecil. Sehingga sejak saat itu Achmad Zaky
memfokuskan Bukalapak.com untuk mengajak pelaku UMKM. Hingga saat ini sudah
lebih dari 10.000 pedagang yang telah bergabung dengan Bukalapak.com.
Sebetulnya banyak hal yang bisa kita lakukan
untuk berkonstribusi dalam pembangunan bangsa ini. Melalui hal sederhana namun
bisa sangat bermanfaat bagi masyarakat.
0 Komentar