Pembangunan Berkelanjutan di Daerah Terdampak Bencana Alam Lumpur Lapindo

Oleh :
MAF ULATUL AINIYAH

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan yang luar biasa. Terdapat lebih dari 300 kelompok etnik, 1340 suku dan 722 bahasa di Indonesia menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010. Tempatnya yang strategis sebagai jalur perdagangan internasionl juga menambah poin plus untuk negara Indonesia. Hal tersebut merupakan potensi yang sangat luar biasa bagi negara Indonesia untuk berkembang menjadi negara maju.

Terlepas dari itu semua akhir-akhir ini juga banyak terjadi bencana alam di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa terjadi 1.999 kejadian bencana di Indonesia selama tahun 2018. Tren bencana juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Seperti gempa bumi, angin puting beliung, tsunami, erupsi gunung api, longsor, banjir, kekeringan,kebakaran hutan dan sebagainya juga turut menambah tingginya risiko bencana. Coba kita  menengok ke belakang. Kita berjalan ke daerah Jawa Timur, tepatnya di daerah Porong, Sidoarjo. Disana kita akan melihat hamparan lautan lumpur panas yang sangat luas yang sampai kini tetap ada. Lumpur panas lapindo merupakan sebuah tragedi yang terjadi pada 27 Mei 2006 di Banjarpanji, Reno Kenongo, kecamatan Porong, kabupaten Sidoarjo. Volumenya terus meningkat hingga menenggelamkan 15 di tiga kecamatan yakni Porong, Tanggulangin serta Jabon. Hal tersebut tentu membawa dampak yang buruk bagi korban. Mereka telah kehilangan tempat tinggal, sanak saudara serta pekerjaan hal tersebut juga berpengaruh pada perekonomian daerah sekitar lumpur. Maka dari itu penulis memiliki gagasan untuk mengembangkan kawasan ekonomi pariwisata yang bertujuan untuk meningkatkan kesejarteraan masyarakat dan pemberdayaan masyarakat di daerah Porong yang harapannya dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi setempat.

          Kawasan  lumpur  lapindo menjadi daya tarik wisatawan karena keunikannya. Hal tersebut merupakan potensi yang harus dikembangkan lagi agar bernilai bagi masyarakat setempat. Maka dari itu, konsep yang penlis tawarkan ialah membangun Ekonomi Pariwisata Lumpur Lapindo. Gambarannya nanti pengunjung akan datang dan menikmati wisata lumpur lapindo bersama dengan tour guide. Sebelumnya pengunjung hars memakai masker yang telah didesain khusus agar tetap menjaga kesehatan dan keselamatan pengunjung. Kemudian pengunjung naik bis mini yang kira-kira kuota maksimalnya 20 orang untuk mengelilingi kolam lumpur  menerima edukasitentang hal tersebut. Setelah itu pengunjung akan beristirahat di rest area yang telah dibuat yang tempatnya agak jauh dari lokasi, sehinga aman untuk dilakukan aktivitas makan dan kegiatan yang lain. Tour guidenya sendiri adalah masarakat sekitar yang akan diberikan edukasi oleh pihak terikat, dan untuk sarana prasarana lainnya seperti air bersih, listrik, sanitasi, jaringan telekomunikasi, pusat perdagangan, kantor informasi dan yang lainya, akan diperukan kerjasama dengan pemerintah maupun swasta.  Dengan begitu perekonomian daerah Porong yang sebelumnya hancur oleh lumpur lapindo dapat dibangun kembali  melalui ekonomi kreatif yang tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk di daerah setempat.

0 Komentar