Memenuhi Kebutuhan Listrik di Daerah Terpencil di Inndonesia dengan Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid


Oleh:
SHA'ID KHANA'FI

Abstrak
Kebutuhan energi listrik di Indonesia meningkat pesat dengan seiringnya pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk. Di tambah lagi dengan luasnya wilayah Indonesia sekitar 5.455.675 km2. Namun, akses pada ketersediaan energi yang handal dan terjangkau belum memenuhi kebutuhan listrik di seluruh wilayah di Indonesia. Banyak sekali pembangkit listrik yang di gunakan pemeritah untuk memenuhi kebutuhan energy listrik di indonesia seperti PLTA, PLTU, PLTD, PLTS masih belum bisa memenuhi kebutuhan listrik di seluruh wilayah indonesia termasuk di wilayah-wilayah terpencil yang sangat sulit di lalui oleh kendaraan bermotor, PLN berencana akan memasang 252 MW PLTD di indonesia timur dan 73 MW di barat. Karena keaikan harga minyak dunia anak terus meningkat di tahun ke tahun, sehigga membuat biaya pembangkit listrik dari PLTD juga akan meningkat. Oleh karena itu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel harus di integrasikan dengan energi yang baru seperti tenaga surya dan tenaga angin untuk pembangkit tenaga hibrid. Karena dengan penggunaan Pembangkit Listrik hidrid dapat memenejemen energi dan bahan bakar diesel lebih efesien. Kosumsi bahan bakar bisa dikurangi seperempat atau sekitar 152 juta liter hingga 2025 atau rata-rata 15,2 juta liter per tahun.
Kata kunci: PLTD, PLTHibrid, potensi EBT, Penghematan BBM

1. PENDAHULUAN

Setiap tahun ke tahun kebutuhan energi listrik di Indonesia meningkat pesat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk di Indonesia. Namun, akses pada ketersediaan energy yang handal dan terjangkau belum sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan listrik di semua wilayah indonesia. Secara umum, kondisi listrik di sejumlah daerah di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian timur masih tergolong rendah dengan jangkauan pembangkit listrik, PLN menargetkan rasio elektrifikasi nasional sebesar 74,03 %, dengan target rasio elektrifikasi JawaBali 77,2%, Indonesia Barat 74,6%, dan Indonesia Timur 61,4%. Untuk rasio elektrifikasi nasional ditargetkan naik menjadi 80,01% pada tahun 2020.  Jika dilihat dari bauran energinya, produksi listrik (PLN dan IPP) tahun 2014, 44% berasal dari pembangkit berbahan bakar batubara, 23% dari pembangkit yang berbahan bakar BBM, 21% dari pembangkit berbahan bakar gas, 7% dari pembangkit bertenaga air, dan 5% berasal dari pembangkit panas bumi. Pembangkit berbahan bakar batubara pada umumnya merupakan pembangkit-pembangkit dengan kapasitas besar. Sementara, pembangkit berbahan bakar BBM sebagian besar dikontribusi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) (pada 2010, produksi listrik dari PLTU Minyak 6.712 GWh dan dari PLTD sebesar 12.620 GWh)
            Dengan keterbatasan sumber energi fosil, harga BBM yang relatif tinggi, dan banyaknya sumber daya baru dan terbarukan guna memenuhi kebutuhan energi listrik di seluruh wilayah Indonesia, khususnya untuk wilayah-wilayah yang masih bergantung pada BBM (PLTD). Selain untuk mengatasi permasalahan beban yang tidak sama panjangnya di setiap hari. Maka dengan mengkombinasikan antara PLTS, PLTB, dan PLTD atau biasa di sebut dengan Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH-SBM) adalah salah satu solusi yang sesuai umtuk sistem pembangkit yang terisolar dengan jaringan yang cukup besar seperti jaringan PLN. PLTHibrid merupakan langkah awal untuk memperkuat ketahanan energi nasional Karen PLTHibrid memanfaatkan sumberdaya energi terbaharukan.
            Artikel ini akan mengulas tentang PLTHibrid yang dimana dapat menjadi solusi untuk menyelesaikan permasalahn kelistrikan di berbagai wilayah-wilayah terpencil dan sekaligus dapat menguragi konsumsi BBM diri tahun ke tahun. Dengan melimpahnya energi cahaya matahari dan energi angin merupakan alasan yang tepat di buatnya teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid. Pemerintah berencana menambah pembangkit listrik di berbagai wilayah di indonesia namun sebagian besar pembangkitnya adalah PLTD, bahkan sebagian besar tenaga listrik di sewa dari perusahaan swasta yang berada di Indonesia . kelebihan dari Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid yaitu tenaga yang di hasilkan dapat di simpan ke dalam battery bank sehingga kerugian dapat dihindari, sehingga pengunaan bahan bakar minyak lebih hemat.
            Dengan menerapkan teknologi PLTS dan PLTB seperempat kapasitas PLTD yang akan di pasang oleh pemerintah maka kebutuhan BBM sampai dengan 2025 dapat dikurangi sebesar 15,2 per liter.

2. BAHAN DAN METODE

Kebutuhan listrik dari tahun 2010 sampai 2019 meningkat dengan pertumbuhan rata-rata nasional sebesar 6.41% pertahun. Pada tahun 2000 menduduki urutan pertama dalam pengonsumsian listrik sebesar 43% adalah sector industri, semetara untuk urutan kedua di duduki oleh sector rumah tangga dengan pengonsumsian listrik sebesar 39%. Namun, dengan adanya pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun mengakibatkan pergeseran sektor rumah tangga (6.95% pertahun) lebih tinggi dari sektor industri (4.13% per tahun), maka pada tahun 2010 konsumsi listrik terbesar berpindah ke sektor rumah tangga sebesar (41%) dan sektor industri bergeser ke urutan kedua dengan konsumsi listrik sebesar 35%.
            Jika dilihat dari penyediaan kapasitas listrik di tahun 2009 wilayah jamali memiliki kapasitas terpasang 18,795 MW, 76 MW atau sekitar 0,4% listrik yang dapat di hasilkan oleh PLTD. Sementara untuk wilayah di luar jamali 7,414 MW kapasitas terpasang, 2,543 MW atau sekitar 34.30% berasal dari PLTD.dan masih banyak wilayah yang menyediakan listrik 100% dari PLTD seperti kap. Riau, Bangka Belitung, dan lainnya secara detail dapat diihat pada Tabel 1.
Berdasarkan RUPTL 2010-2019 indonesia Barat dan Indonesia Timur (tidak termasuk jamali ) mendapatkan penambahan PLTD yang cukup besar , yaitu sekitar 325 MW dengan rincian 251 MW di indonesia Timur dan 73 MW di Indonesia Barat. Detail penambahan setiap tahun dapat di lihat pada tebel 2.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Indonesia merupakan Negara tropis yang berada di sepanjang garis katulistiwa yang memliki sumber energi matahari yeng besar di setiap tahunnya. Intensitas radiasi matahari yang berada di wilayah indonesia  berkisar 2.5 hingga 5.7 kWh/m2 berdasarkan data yang dihimpun oleh BPPT dan BMG. Intensitas radiasi diatas 5 kWh/m2 berada di wilayah indonesia, seperti: Lampung, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, Papua, Bali, NTB, NTT. Sedangkan di jawa barat khususnya di Bogor dan Bandung mempunyai intensitas radiasi diatas 5 kWh/m2 dan untuk Indonesia lainnya rata-rata intensitas radiasi sekitar 4 kWh/m2. Detail intensitas matahari dapat di lihat pada tabel 3.
Agar mendapatkan hasil energi yang dapat dimanfaatkan, energi matahari dikumpulkan dan disimpan dalam panel yang bisa disebut model photovoltaic yang di rangkai secara seri dan paralel untuk mendapatkan hasil tegangan yang diingikan atau bisa di sebut PLTS. Daya yuang di keluarkan pada panel surya berbeda-beda tergantung dari model surya yang di pakai sebagai contohnya model e-Si lebih unggul kerjanya terhadap peningkatan temperatur di  bandingkan dengan model surya c-Si. Dengan demikian akhir-akhir ini banyak panel surya yang menggunakan model surya a-Si dan energy yang di hasilkan panel model a-Si berupa (kWh). Umtuk mendefisiensikan sel surya menjadi listrik dapat di definisikan sebagai berikut:

3.1 Energi Angin

Selain energi matahari secara garis besar relatif  Indonesia memiliki potensi angin yang kurang cukup besar dibandingkan negara lain yang berada di wilayah subtropis. Memang tidak dapat di pungkiri karena wilayah geografis indonesia berada di wilayah equator yang kurang memiliki anginaHasil pengamatan dari NASA dapat dilihat bahwa rata-rata kecepatan angin di indonesia dapat di lihat pada gambar 1. Peta tersebut secara umum menjelaskan bahwa wilayah selatan indonesia berada jauh dari equator yang memliki energy angina relative baik dibandingkan dengan wilayah lain di indonesia. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa wilayah yang memiliki rata-rata kecepatan angina relatif baik yaitu daerah nusa tenggara dengan kecepatan angina 5,5 – 6,5 m/s. sedangkan untuk wilayah Sumatera, Kalimantan, jawa, Sulawesi, dan papua hanya memiliki kecepatan angin rata-rata 2,7-4,5 m/s.
Dalam pengukuran tersebut masih gambaran awal, selanjutnya untuk merancang turbin angin, terdapat beberapa parameter yang perlu perhitungan yang matang, yaitu kecepatan cut-in (Vcut), kecepatan rating (Vrated), dan kecepatan cut-off (Vcostoff). Kecepatan cut-in merupakan kecepatan angin ketika turbin berputar, kecepatan cutoff merupakan kecepatan angina sebelum turbin mengalami kerusakan.daya yang di hasilkan. Daya dari sumber angina yang dibangkitkan adalah berbanding lurus dengan kerapatan udara dan dapat di ungkapkan dalam persamaan:

Daya maksimum angina yang dapat diekstrak oleh turbin dengan luas sapuan roda A sebesar 16/27 (=59.3%) angka ini menurut teori merupakan efisiensi maksimum yang dapat dicapai oleh rotor turbin tipe horizontal. Namun karena adanya kerugian gesekan dan kerugian ujung sudut mengakibatkan efensiensi aerodinamik dari rotor protor menjadi kecil dengan kisaran harga maksimum 0.45 untuk sudut yang baik. Daya yang dapat di serap turbin secara real dapat ditulis menjadi:

3.2 Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid

Cara kerja PLTHibrid Surya-Bayu-Diesel (PLTH-SBD) sangat bergantung pada beban atau flektuasi pemakaian energi selama 24 jam, sehingga dapat diperoleh sinergi yang menguntungkan ekonomis maupun teknis.
      Kelebihan yang daoat diperoleh dari Pembangkit Listrik Tenaga Hbirid yaitu:
a.       Solusi mengatasi krisis bahan bakar minyak bumi
b.      Beban listrik dapat terpenuhi secara optimal terutama didaerah terpencil di indonesia
c.       Meningkatkan sistem pembangkit listrik di indonesia
d.      Miningkatkan waktu layanan listrik secara ekonomis
e.       Meningkatkan umur opersi sistem
f.        Ramah lingkungan
g.      Biaya relative murah
h.      Biaya pengoperasian produksi listrik atau cost of Energy (Rp/kWh)
Disamping kelebihan-kelebihan di atas konfigurasi PembangitListrik Tenaga Hibrid juga memiliki kekurangan yaitu:
a.       Produksi energi baru dan terbaru sangat tergantung pada siklus alam
b.      Biaya investasi awal sistem lebih mahal
c.       Tidak dapat menahan beban puncak dengan baik tanpa penyimpanan energi.

3.3 Prinsip sederhana kerja pembangkit listrik hibrid

Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid (PLTH) didefinisikan merupakan sistem pembangkit energi listrik yang mengabungkan dua atau lebih pembangkit dengan sumber energi yang berbeda. Pada umumnya PLTH-SBD bekerja sesuai dengan urutan:
a.       Pada kodisi beban rendah (sesuai dengan settingnya, misal <50% beban puncaknya), selama kondisi baterai masih penuh beban disuplai 100% dari baterai, PLTS dan PLTB, sehingga diesel tidak perlu beroperasi. Ketiga jenis sumber energi tersebut bekerja secara paralel dalam mensuplai energi listrik ke beban. Aliran daya pada kondisi beban rendah diperlihatkan pada Gambar 3.a. Apabila beban mencapai 50% seperti di atas tetapi baterai masih mencukupi, maka diesel tidak akan beroperasi dan beban disuplai oleh baterai melalui inverter yang akan merubah tegangan DC ke tegangan AC.
b.      Jika beban naik sampai diatas 50% beban puncak dan kondisi baterai sudah berada pada level bawah yang disyaratkan, diesel mulai beroperasi untuk mensuplai beban dan sebagian mengisi baterai sampai beban yang disyaratkan diesel mencapai 70-80% kapasitasnya. Pada kondisi ini inverter bekerjasebagai charger (merubah tegangan AC dari generator menjadi tegangan DC) untuk mengisi baterai (fungsi bi-directional Inverter). Aliran daya seperti terlihat pada Gambar 3.b. dapat terjadi selama kapasitas beban yang aktif pada saat itu lebih kecil dari kapasitas diesel generator.
Pada kondisi beban puncak, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.c, seluruh sub sistem pembangkit peroperasi bersama-sama untuk menuju paralel sistem dan ini terjadi apabila kapasitas terpasang diesel atau inverter tidak mampu sampai beban puncak. Jika kapasitas genset cukup untuk mensuplai beban puncak, maka inverter tidak akan beroperasi paralel dengan genset. Apabila baterai sudah mulai penuh energinya maka secara otomatis genset akan mati dan beban disupali dari baterai melalui inverter.

4. KESIMPULAN

Dari hasil analisis yang telah dilakukan,maka dapat disimpulkan :
·            Masih banyak wilayah terpencil diindonesia yang masih kekurangan energi listrik namun wilayah tersebut memiliki kelebihan yang dimana wilayah tersebut sangat strategis untuk dibangunnya pembangkit listrik baru dan terbaharui.
·          Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di wilayah indonesia bagian barat dan timur masih bergantung pada PLTD yang dimana bahan bakarnya masih BBM, dan dimana saat ini BBM mengalami peningkatan harga jual dari tahun ke tahun yang mengakibatkan biaya PLTD anak membebani masyarakat.
·          Dengan adanya sumber EBT, yang khususnya berjalan di energi surya dan energi angin yang bisa digunakan untuk mengurangi biaya bahan bakar pada PLTD.
·                Adanya kwantitas yang terjamin karena terbentuknya pembangkit listrik PLTHibrid Surya-Bayu-Diesel.
·n        Dengan terbentuknya sistem PLTH yang mengukana biaya pengoperasian yang relatif murah yang dapat menekan pengeluaran keuangan energi listrik dan bahan bakar minyak negara indonesia.

Dengan adanya sistem PLTH yang ramah lingkungan yang bisa menekan kerusakan lingkungan.

5. DAFTAR PUSTAKA

Kurniasih Novi dan Nazir Refdinal. 2015. Analisis pembangkit listrik tenaga hibrid macrohydro-photovoltaic array menggunakan homer. Padang: Universitas Andalas.

PLN., 2010. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero) 2010-2019, PT PLN (Persero), Jakarta.

Alvaro L., Octavian C., Jaime J., and Haritza C., Survey on microgrids: Unplanned islanding and related inverter control techniques, Renewable Energy, Article in Press, 2011, 110.

Irawan R., dan Ira F., Analisis Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Indonesia, Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, dan Energi Terbarukan, P3TKKE-BPPT, Januari 2005, 43-52, Jakarta.

Nurrohim, Agus. 2012. Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid sebagai Solusi Kelistrikan di Derah Terpencil. Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

0 Komentar