Poblema Loyalitas Wanita dan Rasa
Kebersamaan Terhadap Bangsa Negara Agama
Intan Rahma Diana; Pesma Jamilah;
Teknik Informatika
Hari
Kartini selalu dikaitkan dengan yang namanya perempuan. Sosok Raden Ajeng
Kartini yang begitu menginspirasi perempuan dengan membuktikan loyalitasnya
hingga para perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata. Pada saat itu
diskriminasi antara laki-laki dan perempuan sangatlah terlihat jelas. Hanya
karena perbedaan jenis kelamin membuat perempuan terlihat lemah karena tidak
langsung terjun ke medan perang. Namun, perjuangan R.A Kartini melalui
tulisannya dalam membela dan memperjuangkan hak perempuan membuat kesetaraan
antara laki-laki dan perempuan sama.
Lalu
bagaimana dengan masa sekarang? Apakah masih ada diskriminasi antara laki-laki
dan perempuan? Lalu apakah laki-laki lebih berperan jika dibandingkan dengan
perempuan? Dan bagaimana dengan kehidupan perempuan pada masa modern seperti
sekarang ini? Apakah kesetaraan yang diidamkan pada masa terdahulu sudah
menjadi sebuah kebebasan mutlak? Bagaimana loyalitas kita sebagai manusia
terhadap bangsa, negara dan agama? Banyak sekali pertanyaan yang ada di pikiran
kita untuk menganalisis apa yang terjadi di masa sekarang. Hal-hal kecil
seperti ini membuat kita lebih peka dan tanggap dalam menghadapi masalah.
Pertama,
kita akan melihat kehidupan modern seperti sekarang ini. Kehidupan sekarang
begitu seimbang tanpa adanya diskriminasi. Sudah banyak organisasi yang
melibatkan perempuan dalam kepentingan bersama seperti halnya IPNU-IPPNU. Jika
dilihat dari lama pendiriannya, IPPNU memang bisa dikatakan masih baru jika
dibandingkan dengan IPNU tetapi usaha untuk membangkitkan jiwa yang patuh dan
tunduk terhadap upaya memperjuangkan tanah air masih kuat dan kental terhadap
perubahan zaman.
Di
sekitar kita banyak dijumpai hal yang tidak sesuai kodratnya. Hal yang kerap
terjadi contohnya seperti LGBT. Orang tersebut tahu bahwa dirinya laki-laki
namun kenapa bertindak layaknya seorang perempuan? Disini yang salah bukanlah
masalah jenis kelamin. Akan tetapi masalah moral manusia yang sedang
dipertaruhkan untuk menghadapi dunia globalisasi. Semua masalah yang besar
sumbernya hanyalah dari hal yang kecil. Lalu bagaimana jika moral tersebut
mempengaruhi loyalitas kita untuk bangsa dan negara? Kita
perbaiki
sikap dan perilaku kita yang nantinya menjadi pertimbangan apakah kita bisa
memperjuangkan tanah air dari pengaruh luar atau tidak.
Kedua,
apakah laki-laki lebih berperan jika dibandingkan dengan perempuan? Jawabannya
masihlah setara. Laki-laki dan perempuan berperan dalam bidangnya
masing-masing. Laki-laki memang sering mengandalkan fisik dan akal dalam
melakukan sesuatu sedangkan perempuan lebih mengutamakan sensor (rangsangan)
dan perasaan. Dan pertanyaan yang mucul adalah bagaimana keduanya berperan?
Berperan dalam artian ini adalah saling mendukung dan menopang satu sama lain.
Contohnya dalam lingkup organisasi yang beraspek pada bangsa, negara dan agama
yaitu IPNU-IPPNU. Organisasi ini (IPNU- IPPNU) memang organisasi yang terpisah.
Tetapi dalam berjalannya tugas ataupun pekerjaan mereka saling mendukung dan
mengemban tugas bersama untuk menopang apa yang telah menjadi dasar utama yaitu
memperjuangkan tanah air.
Ketiga,
bagaimana dengan kehidupan perempuan pada masa modern seperti sekarang ini?
Seperti penjelasan sebelumnya, kerusakan moral dapat mempengaruhi kualitas
karakter yang akan dibentuk. Kebanyakan faktor luar karena tekanan atau
pengaruh negatif lainnya. Menurunnya kualitas sumber daya manusia dapat
mempengaruhi masa depan. Jika dilihat dari segi perempuan, faktor luar yang
sangat mempengaruhi adalah fashion dan gaya hidup. Dua hal tersebut begitu
dominan dalam kehidupan perempuan. Apakah bisa diubah? Sebagai negara yang
letaknya strategis, Indonesia tidak cukup kuat untuk menghalau
pengaruh-pengaruh negatif tersebut. Loyalitas kita untuk tetap tunduk akan
aturan, memilah dan memilih apa yang baik untuk kehidupan kita itulah yang
terpenting. Untuk itu penting dalam memperbaiki sikap kita untuk menghadapi
masalah yang terbentang ke depannya.
Keempat,
apakah kesetaraan yang diidamkan pada masa terdahulu sudah menjadi sebuah
kebebasan mutlak? Jawabannya adalah terlalu bebas hingga membuat rusaknya moral
kita sebagai manusia. Seperti yang telah disinggung diatas, jawaban utama
hanyalah “loyal” terhadap apa yang kita yakini. Artinya, walaupun kita bebas
dalam melakukan apapun, tetaplah pada batasan atau aturan yang mengikat untuk
benteng kita menghadapi hal-hal negatif. Gaya hidup manusia sekarang sudah
bebas tak terbatas. Terlebih teknologi yang mengirimkan jutaan informasi tanpa
hambatan waktu dan tempat. Dari sebuah keingintahuan menjadi penasaran dan
akhirnya implementasi yang tidak sesuai ekspetasi. Teknologi mengharuskan kita
berbaur dengan orang lain baik sesama pengguna atau sumber infomasi.
Untuk
itu, bertindaklah layaknya manusia sosial yang saling mengingatkan sesama akan
suatu hal yang dirasa salah.
Dan
yang terakhir, bagaimana loyalitas kita sebagai manusia terhadap bangsa, negara
dan agama? Jawabannya adalah usaha untuk mengimplementasikannya. Tak hanya
dalam teori, tindakan langsung juga diperlukan untuk membuktikan bahwa kita
adalah manusia yang loyal terhadap apa yang menurut kita benar. Loyalitas tak
akan berjalan jika salah satu pihak tidak mendukung atau saling membantu. Perlu
adanya bentuk kerja sama yang nantinya akan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Interaksi kerja sama tersebut juga akan menumbuhkan sikap saling menghargai,
memiliki, dan menyayangi. Apakah R.A Kartini berjuang sendiri? Jawabannya
adalah tidak. Karena generasi penerus akan tetap berjuang untuk menyokong apa
yang telah dibangun pendahulunya. Jadilah diri sendiri dan menanglah dari
seleksi masa depan sebagai bukti bahwa kita pantas menjadi pejuang bukan
sebagai pengecut yang berdiri dibalik jayanya masa lalu.
0 Komentar