Juara 3 Lomba Menulis Artikel 2018


Poblema Loyalitas Wanita dan Rasa Kebersamaan Terhadap Bangsa Negara Agama
Intan Rahma Diana; Pesma Jamilah; Teknik Informatika

Hari Kartini selalu dikaitkan dengan yang namanya perempuan. Sosok Raden Ajeng Kartini yang begitu menginspirasi perempuan dengan membuktikan loyalitasnya hingga para perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata. Pada saat itu diskriminasi antara laki-laki dan perempuan sangatlah terlihat jelas. Hanya karena perbedaan jenis kelamin membuat perempuan terlihat lemah karena tidak langsung terjun ke medan perang. Namun, perjuangan R.A Kartini melalui tulisannya dalam membela dan memperjuangkan hak perempuan membuat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sama.
Lalu bagaimana dengan masa sekarang? Apakah masih ada diskriminasi antara laki-laki dan perempuan? Lalu apakah laki-laki lebih berperan jika dibandingkan dengan perempuan? Dan bagaimana dengan kehidupan perempuan pada masa modern seperti sekarang ini? Apakah kesetaraan yang diidamkan pada masa terdahulu sudah menjadi sebuah kebebasan mutlak? Bagaimana loyalitas kita sebagai manusia terhadap bangsa, negara dan agama? Banyak sekali pertanyaan yang ada di pikiran kita untuk menganalisis apa yang terjadi di masa sekarang. Hal-hal kecil seperti ini membuat kita lebih peka dan tanggap dalam menghadapi masalah.
Pertama, kita akan melihat kehidupan modern seperti sekarang ini. Kehidupan sekarang begitu seimbang tanpa adanya diskriminasi. Sudah banyak organisasi yang melibatkan perempuan dalam kepentingan bersama seperti halnya IPNU-IPPNU. Jika dilihat dari lama pendiriannya, IPPNU memang bisa dikatakan masih baru jika dibandingkan dengan IPNU tetapi usaha untuk membangkitkan jiwa yang patuh dan tunduk terhadap upaya memperjuangkan tanah air masih kuat dan kental terhadap perubahan zaman.
Di sekitar kita banyak dijumpai hal yang tidak sesuai kodratnya. Hal yang kerap terjadi contohnya seperti LGBT. Orang tersebut tahu bahwa dirinya laki-laki namun kenapa bertindak layaknya seorang perempuan? Disini yang salah bukanlah masalah jenis kelamin. Akan tetapi masalah moral manusia yang sedang dipertaruhkan untuk menghadapi dunia globalisasi. Semua masalah yang besar sumbernya hanyalah dari hal yang kecil. Lalu bagaimana jika moral tersebut mempengaruhi loyalitas kita untuk bangsa dan negara? Kita
perbaiki sikap dan perilaku kita yang nantinya menjadi pertimbangan apakah kita bisa memperjuangkan tanah air dari pengaruh luar atau tidak.
Kedua, apakah laki-laki lebih berperan jika dibandingkan dengan perempuan? Jawabannya masihlah setara. Laki-laki dan perempuan berperan dalam bidangnya masing-masing. Laki-laki memang sering mengandalkan fisik dan akal dalam melakukan sesuatu sedangkan perempuan lebih mengutamakan sensor (rangsangan) dan perasaan. Dan pertanyaan yang mucul adalah bagaimana keduanya berperan? Berperan dalam artian ini adalah saling mendukung dan menopang satu sama lain. Contohnya dalam lingkup organisasi yang beraspek pada bangsa, negara dan agama yaitu IPNU-IPPNU. Organisasi ini (IPNU- IPPNU) memang organisasi yang terpisah. Tetapi dalam berjalannya tugas ataupun pekerjaan mereka saling mendukung dan mengemban tugas bersama untuk menopang apa yang telah menjadi dasar utama yaitu memperjuangkan tanah air.
Ketiga, bagaimana dengan kehidupan perempuan pada masa modern seperti sekarang ini? Seperti penjelasan sebelumnya, kerusakan moral dapat mempengaruhi kualitas karakter yang akan dibentuk. Kebanyakan faktor luar karena tekanan atau pengaruh negatif lainnya. Menurunnya kualitas sumber daya manusia dapat mempengaruhi masa depan. Jika dilihat dari segi perempuan, faktor luar yang sangat mempengaruhi adalah fashion dan gaya hidup. Dua hal tersebut begitu dominan dalam kehidupan perempuan. Apakah bisa diubah? Sebagai negara yang letaknya strategis, Indonesia tidak cukup kuat untuk menghalau pengaruh-pengaruh negatif tersebut. Loyalitas kita untuk tetap tunduk akan aturan, memilah dan memilih apa yang baik untuk kehidupan kita itulah yang terpenting. Untuk itu penting dalam memperbaiki sikap kita untuk menghadapi masalah yang terbentang ke depannya.
Keempat, apakah kesetaraan yang diidamkan pada masa terdahulu sudah menjadi sebuah kebebasan mutlak? Jawabannya adalah terlalu bebas hingga membuat rusaknya moral kita sebagai manusia. Seperti yang telah disinggung diatas, jawaban utama hanyalah “loyal” terhadap apa yang kita yakini. Artinya, walaupun kita bebas dalam melakukan apapun, tetaplah pada batasan atau aturan yang mengikat untuk benteng kita menghadapi hal-hal negatif. Gaya hidup manusia sekarang sudah bebas tak terbatas. Terlebih teknologi yang mengirimkan jutaan informasi tanpa hambatan waktu dan tempat. Dari sebuah keingintahuan menjadi penasaran dan akhirnya implementasi yang tidak sesuai ekspetasi. Teknologi mengharuskan kita berbaur dengan orang lain baik sesama pengguna atau sumber infomasi.
Untuk itu, bertindaklah layaknya manusia sosial yang saling mengingatkan sesama akan suatu hal yang dirasa salah.
Dan yang terakhir, bagaimana loyalitas kita sebagai manusia terhadap bangsa, negara dan agama? Jawabannya adalah usaha untuk mengimplementasikannya. Tak hanya dalam teori, tindakan langsung juga diperlukan untuk membuktikan bahwa kita adalah manusia yang loyal terhadap apa yang menurut kita benar. Loyalitas tak akan berjalan jika salah satu pihak tidak mendukung atau saling membantu. Perlu adanya bentuk kerja sama yang nantinya akan menumbuhkan rasa kebersamaan. Interaksi kerja sama tersebut juga akan menumbuhkan sikap saling menghargai, memiliki, dan menyayangi. Apakah R.A Kartini berjuang sendiri? Jawabannya adalah tidak. Karena generasi penerus akan tetap berjuang untuk menyokong apa yang telah dibangun pendahulunya. Jadilah diri sendiri dan menanglah dari seleksi masa depan sebagai bukti bahwa kita pantas menjadi pejuang bukan sebagai pengecut yang berdiri dibalik jayanya masa lalu.

0 Komentar