KARUNIA (Kajian Rutinan)


IPNU-IPPNU UNESA merupakan organisasi yang berbasiskan agama yang berhaluan ahlus sunnah wal jamaa’ah atau lebih dikenal dengan sebutan aswaja. Patut kiranya jika organisasi yang berbasiskan agama mempunyai suatu agenda rutin yang dijadikan sebagai wadah untuk memperluas serta memperdalam tentang ilmu keislamannya. Oleh sebab itu, IPNU-IPPNU yang merupakan salah satu organisasi yang berbasiskan agama tidak lupa akan mengadakan agenda tersebut. Biasanya dimuat dalam bentuk kajian-kajian keislaman yang dipandu oleh para kyai serta ustadz-ustadz yang sudah berkompeten di bidangnya. Dalam seminggu agenda kajian keislaman tersebut diadakan setiap hari senin malam selasa, tepatnya ba’da maghrib yang bertempatkan di pondok pesantren yatama lebih tepatnya di PTT II.
Biasanya yang mengisi kajian rutinan pada malam senin adalah Kyai Abdurrahman Navis dan Ustadz Majid. Beliau biasanya bergantian untuk mengisi kajian pada malam senin tersebut. Untuk metodenya, masing-masing mempunyai metode sendiri. Jika Kyai Navis lebih condong membahas masalah fiqih, yang beliau ajarkan adalah hasil rangkuman dari semua pertanyaan yang pernah ditanyakan kepada beliau oleh jama’ahnya di berbagai majelis dan media. Sedangkan metode yang digunakan oleh Ustadz majid adalah metode sharing, dimana beliau bercerita tentang pengalaman beliau ataupun menceritakan kisah-kisah para sahabat rasul, serta kisah kisah lainnya yang dapat dikatakan kisah inspiratifn serta ditambah berbagai pertanyaan dapat ditanyakan kepada beliau karena lebih condong ke arah sharing.
Sedangkan pada hari rabu malam kamis juga ada kajian rutinan yang juga diadakan setelah shalat maghrib. Pematerinya adalah Ustadz anwar. Beliau merupakan seorang dosen fakultas ekonomi, beliau juga menjabat sebagai pembina IPNU-IPPNU UNESA.  Untuk kajian yang dilakukan pada hari rabu ini biasanya menjadikan kitab mukhtaarul hadist sebagai rujukannya. Oleh sebab itu, metode yang dilakukan oleh Ustadz Anwar adalah dengan menyimak beliau membacakan kitab tersebut, lalu kita sebagai jama’ah (selaku santri) mendengarkan serta menulis makna ataupun poin-poin kajian yang dirasa penting. Kajian ini biasa dilakukan di RMI (Roudhoh Ma’had Islamiyah) di jalan ketintang madya, terkadang kajian ini juga dilakukan di Masjid BM UNESA dengan waktu yang juga sama namun hanya tempat saja yang berbeda.
Oleh sebab itu walaupun disibukkan dengan kegiatan dan tugas-tugas kuliah yang menumpuk, akan tetapi IPNU-IPPNU UNESA juga tidak lupa akan kewajiban mencari ilmu akhirat yakni ilmu agama. Dengan ilmu kita menjadi tahu, paham, serta mengerti. Dengan ilmu kita dapat mengatur tindak-tanduk baik dari tutur kata serta sikap ataupun perilaku kita. Dengan gambaran yang sedikit tersebut kita dapat mengetahui akan keagungan orang yang berilmu. Ada hadist yang mengatakan bahwa tidurnya seorang yang berilmu itu lebih mulia daripada seorang abid (ahli ibadah) namun tidak mengetahui akan ilmu daripada ibadah yang dilakukannya.

Hukum Berdzikir Atau Berdoa Kepada Orang Yang Sudah Meninggal
Berdoa merupakan perintah Allah. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berdoa kepada Allah. Karena doa erupakah inti dari ibadah. Dalam setiap gerak ibadah yang dilakukan olelh seorang mukmin itu ada doa. Bahkan dalam sebuah hadits dinyatakan, bahwa doa itu merupakan pedang bagi seorang muslim. Islam membolehkan berdoa atau dzikir untuk orang yang sudah mati. Dalam sebuah ayat dinyatakan:
Orang-orang yang datang sesudah mereka(Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami." (QS. Al-Hasyr)

Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa para sahabat pernah berdoa untu saudara-saudara mereka yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Ketika para sahabat melakukan hal itu, rasulullah pun tidak melarangnya. Nabi membiarkan dan membolehkannya. Perintah untuk mendoakan orang lain juga disebutkan dalam ayat:
"Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan." (QS. Muhammad: 19)

Nabi SAW.sendiri dalam beberapa haditsnya memerintahkan secara terang-terangan supya umat islam membacakan ayat-ayat al-Qur'an untuk orang yang telah meninggal dunia. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut:
Dari Mu'aqqol ibn Yassar ra.: "barang siapa membaca surat yasin karena mengharap ridlo Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, maka bacakanlah surat yasin bagi orang yang mati diantar kamu." (Al-Baihaqi, Jami'us Shogir: bab Syu'abul Iman, Vol. 2, hal. 178, termasuk hadits shohih.)
Senada dengan itu, dalam hadits lain Rasulullah juga menganjurkan kepada kaum muslimin untuk memohonkan ampunan bagi si mayit atas dosa-dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan saat hidup di dunia. Dari Utsman bin Affan ra, dia berkata:
"Ketika Rasulullah selesai menguburkan jeazah, maka beliau berdiam diri atas mayit, lalu bersabda, "mohon ampunlah kalian semua kepada Allah SWT.untuk saudaramu. Dan mohonlah ketetapan untuk mayit sesungguhnya saat ini dia sedang diberi pertanyaan." (HR. Abu Daud dan Hakim, termasuk hadits shohih menurut Abu Daud, Bulughul Maram: 115/604)

0 Komentar