Karakter NU (Pluralitas) sebagi pemersatu bangsa


Perbedaan seringkali dijadikan kambing hitam dalam suatu pertikaian. Perang yang berlangsung terus-menerus di kawasan timur tengah menjadi salah satu contoh akan bahayanya suatu perbedaan. Satu ajaran, namun berbeda pemahaman, dan berujung pada sebuah kehancuran. Mirisnya, banyak orang yang hanya menilai perbedaan sebagai sebuah awal dari kehancuran, dan buta akan keindahan yang timbul dari beragam perbedaan.
Saat melihat banyaknya perang yang terjadi di timur tengah, mari kita bersyukur, karena dilahirkan di Indonesia. Negara dengan berbagai perbedaan, mulai dari warna kulit, logat bahasa, watak, ukuran tubuh, etnis sampai dengan kepercayaan. Tidak ada yang serumpun, semuanya berbeda. Walaupun banyak sekali perbedaan dalam Indonesia, tapi sudah jarang sekali terjadi peristiwa serius yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan tersebut.
Menilik dari sejarah bangsa ini sendiri, Indonesia sudah sangat akrab dengan perbedaan yang lebih familiar disebut dengan pluralitas. Berdasarkan sejarah tersebut, almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (2008) menyimpulkan bahwa “pluralitas dalam bentuk dialog terbuka, sebenarnya sudah lama dijalani bangsa Indonesia”1. Indonesia dengan berbagai model kerajaan yang pernah berkuasa, ditambah dengan berbagai ragam corak keagamaan dan kebudayaan yang mewarnai perjalanan dari kerajaan-kerajaan tersebut, menjadi dalil kuat akan kesimpulan yang dilontarkan dari bapak pluralisme.   
Akan tetapi, maraknya gesekan dan sengketa antar penduduk bangsa negara yang terjadi, membuat eksistensi pluralitas yang dibangun sejak zaman dahulu, kini mulai terganggu, khusunya dalam bidang agama. Banyak sekali kasus-kasus yang saat ini masih ‘fresh’ di bahas oleh media, diantaranya ialah pembakaran masjid di tolikara saat umat muslim melaksanakan sholat idul adha. Kepercayaan memang menjadi hal yang sulit untuk di ubah dan bersifat ‘kaku’. Namun, perbedaan kepercayaan bukan menjadi alasan untuk memecah kesatuan yang sudah terjalin di republik ini. Dalam salah satu karyanya, Syamsuddin Arif (2008 : 82) berpendapat sebagai berikut.
“Pluralisme memang tidak gebyah-uyah menyamakan semua agama. Sebab andaikata semua agama sama, maka pluralitas tidak ada. Namun, kaum pluralis tidak sekadar mengakui keberadaan berbagai agama. Lebih dari itu, mereka menganggap semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun ‘porsinya’ tidak sama. Semuanya menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan, walaupun ‘resepnya’ berbeda-beda.”2
Dari secuil pernyataan diatas, semestinya masyarakat Indonesia harus bisa tampil bersama dalam menjalin persatuan di negeri ini, saling membahu satu sama lain, yang tentunya juga diiringi dengan ‘rambu-rambu’ toleransi dari tiap ajaran. Ketika masing-masing umat beragama di negeri ini dapat menghormati ‘rambu-rambu’ toleransi tersebut, niscaya tidak akan ada lagi yang dinamakan diskriminasi agama yang kini marak terjadi.
Sebagai generasi penerus bangsa, wajib hukumnya untuk memahami secara utuh luar-dalam  terhadap butir-butir pancasila yang dicetuskan oleh pendiri bangsa ini, serta meneladani sikap nasionalisme yang telah dicontohkan oleh mereka. Andai pada saat perumusan dasar negara, bapak Soekarno selaku motor utama dalam kebangkitan negeri ini tidak bijak dalam mengambil keputusan, khusunya dalam perumusan pancasila sila pertama, ditambah dengan tanpa kesigapan bung hatta dalam merespon protes yang disuarakan oleh penduduk timur Indonesia, serta tanpa sikap ke-legowo-an yang mencerminkan sikap toleransi tinggi dari K.H. Ach. Wachid Hasjim, mungkin semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang sudah lahir sejak zaman Majapahit, tidak akan lagi berlaku di Indonesia.3 (Rohmat Hidayatullah)

Arif, Syamsuddin. 2008. Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Jakarta : Gema Insani
Wahid, Abdurrahman. 2008. Hakikat Semangat Kebangsaan Kita. diakses melalui http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,6-id,53854-lang,id-c,taushiyah-t,Hakikat+Semangat+Kebangsaan+Kita-.phpx pada tanggal 26 Juni 2015
Warsono, dkk. 2014. Pendidikan Pancasila. Surabaya : Unesa University Press

          
   


0 Komentar